|
(wawancara) Werner Herzog: Filmmaker Sekarang Lebih Banyak Mengelu oleh Asmayani Kusrini Suatu kali kritikus-yang-menjadi-sutradara François Truffaut menyebutnya ‘the most important film direcor alive’. Ken Burns menjulukinya ‘the great film artist of our time’. Peter Wintonick, sutradara Manufacturing Consent: Noam Chomsky and the Media and Cinema Vérité:Defining the Moment menganggapnya sebagai suhu. Hubert Sauper, sutradara Darwin’s Nightmare datang mengadu padanya ketika mengalami masalah. Dialah satu-satunya orang, satu-satunya sutradara yang sudah membuat film di 7 benua. Itu saja sudah cukup membuat saya tidak bisa tidur ketika suatu kali mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Werner Herzog, sutradara dengan kurang lebih 50 film --15 Features, termasuk film pendek dan selebihnya adalah dokumenter. Beberapa diantara filmnya masuk kategori ‘Film Terbaik Sepanjang Masa’ –Aguirre The Wrath Of God, Fitzcarraldo, Stroszek---, harus mulai darimana ngobrol dengan orang ini? Belum lagi rumor-rumor yang beredar bahwa Herzog adalah orang Jerman yang sangar dan galak. Dan tentu saja eksentrik. Kita tentu tidak akan lupa dengan dokumenter karya Les Blank: Werner Herzog Eats His Shoe dimana Herzog benar-benar memakan sepatunya sendiri karena kalah bertaruh. Demi sahabatnya, Lotte Eisner (kritikus film Jerman dan sempat menjadi penulis tetap di Cahiers Du Cinema) yang sekarat, Herzog pernah pula berjalan kaki dari Munich ke apartemen Eisner di Paris. Herzog melakukan semacam ‘deal’ dengan Tuhan, jika ia berhasil tiba di Paris dengan berjalan kaki, maka umur Eisner akan lebih panjang. Belum lagi kegilaannya yang lain; mengarak kapal ribuan ton menyeberangi gunung di Fitzcarraldo atau melepas puluhan ribu tikus di kota Delft, Belanda demi syuting film Nosferatu. Ia selalu menolak melakukan syuting di studio. Satu-satunya film yang menggunakan studio adalah Rescue Dawn, ‘Itupun hanya adegan saat helikopter meledak’, tegasnya.
|
|
|
oleh : Para Perempuan Malang
1 Krisna Sen, akademisi film asal Australia, dalam jurnal Inside Indonesia edisi 29 menyebutkan fenomena perempuan di belakang kamera adalah bagian dari perubahan perfilman Indonesia pascareformasi. Sejak 1926 hingga sebelum reformasi, dalam catatan Sen, hanya 3 orang perempuan yang pernah menjadi sutradara. Itu pun tanpa mendapat respon terlalu menggembirakan, baik secara populer maupun artistik. Sen juga benar untuk satu hal: persoalan perempuan kontemporer yang dipandang dari kacamata “perempuan” (jika tak ingin menyebutnya feminis) memang relatif baru karena pandangan semacam itu juga baru berkembang belakangan. Para sutradara dan produser yang berkarya di masa Orde Baru (baik lelaki maupun perempuan) tunduk pada pandangan patriarkis yang memang merupakan pandangan dominan masa itu (dan mungkin sampai sekarang). Perempuan Punya Cerita yang merupakan kumpulan 4 film pendek tentang perempuan, memperpanjang daftar film Indonesia pascareformasi yang dibuat dengan mendekati subyek mereka dengan memakai perspektif perempuan. Sebelumnya, kita sudah melihat Pasir Berbisik (Nan T. Achnas), Eliana-eliana (Riri Riza), dan Berbagi Suami (Nia Dinata). Juga, dalam skala lebih luas dan longgar, Marsinah (Slamet Rahardjo). Dengan pernyataan tegas di berbagai materi publikasi film ini, maka Perempuan Punya Cerita menjadi film dengan sebuah pernyataan politik: perempuan sedang mendaku posisi mereka dalam ranah film di Indonesia. Film ini dibagi dalam segmen-segmen: Cerita Pulau (sutradara Faitmah T. Rony dan skenario Vivin Idris), Cerita Yogyakarta (Upi dan Vivian Idris), Cerita Cibinong (Nia Dinata dan Melissa Karim) dan Cerita Jakarta (Lasja F. Sutanto dan Melissa Karim). 2 Cerita Pulau menceritakan tentang seorang bidan bernama Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) di sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Ia menjadi pusat kehidupan banyak orang, termasuk bagi perempuan yang disayanginya, Wulan (Rachel Maryam), seorang perempuan terbelakang mental. Hidup Sumantri sendiri tak mudah. Ia sakit kanker yang sudah rada gawat. Sumantri juga sedang diperiksa polisi akibat sebuah kasus aborsi yang dilakukannya. Padahal menurut Sumantri ia melakukan aborsi itu demi keselamatan pasiennya (sebuah premis yang mengingatkan kita pada Vera Drake karya Mike Leigh). Tak cukup deraan-deraan itu, Sumantri harus menemukan Wulan diperkosa oleh segerombolan anak muda yang seolah datang khusus dari Jakarta untuk keperluan itu –memerkosa. Pengaduan Sumantri ke polisi tak dianggap karena statusnya yang masih menjadi tersangka atas kasus aborsinya itu. Bahkan nenek Wulan yang seharusnya membela, malahan mengambil keuntungan pribadi karena keluguannya. Ditimpa kesulitan seperti itu, Sumantri harus berhadapan pula dengan keputusan sang suami yang menambah ketidakberdayaannya. Sang bidan pahlawan itu pun harus mundur terpaksa dari perjuangannya dan hidup berlanjut tanpa ia bisa campur tangani lagi.
|
|
|
oleh : Eric Sasono Belakangan, agak jarang muncul film Indonesia yang memang diniatkan sebagai melodrama; film yang diniatkan sebagai tearjerker yang tak punya beban selain untuk bercerita tentang sesuatu untuk membuat para perempuan bercucuran air mata. Rasanya, sudah beberapa saat ini film genre Indonesia menyerah, kecuali horor dan teen flick. Kedatangan film genre --film yang biasanya niat utamanya adalah bercerita-- patut disambut gembira. Maka, saya suka pada Radit dan Jani. Maksud saya, seharusnya saya suka. Saya ceritakan dulu kenapa; sebelum akhirnya kata ‘seharusnya’ itu muncul. Radit dan Jani adalah sebuah post-romance melodrama yang memang dibuat untuk menceritakan bahwa tak mudah meraih mimpi. Kedua anak yang menikah muda ini merasa punya sikap dan pendirian; mungkin ego. Apapun namanya, mereka berhak. Namun semua orang tahu bahwa hak memang perlu diperjuangkan, bahkan kadang hingga tak masuk akal. Dan apalah akal di tengah romantisme sepasang anak awal duapuluhan yang saling memanggil ‘bodoh’ satu sama lain? Maka ketika mereka menahan lapar dan main tebak-tebakan remeh sampai muncul nama Dedi Dores sebagai gitaris top, maka itulah sebuah pilihan. Juga ketika mereka memutuskan untuk tak menjual sepatu bot bermotif jaguar yang harganya mahal itu, atau kalung yang sangat bagus itu, dan tetap menahan lapar, mungkin ada sesuatu yang mereka bela di situ. Kebebasankah, atau semacam itu, yang sedang mereka bela? Bisa jadi. Namun di sinilah akhirnya ‘seharusnya’ itu muncul. Saya pun batal begitu saja menyukai film ini. Saya membayangkan Radit diganti namanya jadi Dedi, dan profesinya adalah seorang sarjana menganggur yang akhirnya kerja serabutan termasuk jadi badut di TMII atau Taman Impian Jaya Ancol. Saya membayangkan Jani diganti Menul, seorang perempuan yang kebetulan pintar masak dan akhirnya memutuskan membuka warung pinggir jalan dengan menjual perhiasan yang dimilikinya. Oh, maaf, tak adil saya membandingkan Radit dan Jani dengan Badut-badut Kota (Ucik Supra, 1993). Namun ada alasan kecil untuk itu.
|
|
|
Oleh : Erik Sasono Ini adalah sebuah film dengan premis terlaksananya mimpi basah lelaki ndeso seperti Tukul Arwana: andai orang desa macam Tukul akhirnya bisa beristri perempuan secantik Wulan Guritno atau Marsha Timoty. Tentu saja karena film, sebagaimana kata Carl Gustav Jung, adalah perwujudan dari segala mimpi yang tak bisa terjadi di dunia nyata, maka jika kita bisa bikin film, berikan saja mimpi semacam itu. Seperti lewat drama TV Ujang Pantry, penulis skenario Monty Tiwa punya bahan bagus sekali ketika Tukul Arwana mau main film. Tukul dalam kehidupan nyata adalah semacam mimpi basah yang terwujud itu. Apatah lagi yang diharapkan oleh orang seperti Tukul yang sekarang ini merupakan penampil TV dengan bayaran paling tinggi di Indonesia. Maka Otomatis Romantis bagaikan sebuah rekonstruksi atas semacam mimpi basah itu, untuk soal berbeda. Jika Tukul di kehidupan nyata adalah lambang dari keberhasilan jadi kaya mendadak, maka film ini adalah soal keberhasilan meraih cinta sejati. Berkisah tentang Bambang Setiadi (Tora Sudiro) yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah majalah gaya hidup wanita mirip majalah Cosmopolitan dalam kehidupan nyata. Dalam majalah seperti itu, jauh sekali jarak antara pesuruh dengan pemimpin redaksi. Namun Sang pemimpin redaksi Nadia (Marsha Timothy) adalah “perawan tua” yang sudah dikejar-kejar oleh ayahnya (Tarzan) supaya cepat kawin. Kebetulan pula Bambang adalah seorang lelaki tampan, berhati mulia, jujur dan sesungguhnya intelek (dia sempat kerja jadi wartawan di majalah pertanian, lho...). Semacam tokoh Si Boy pada 1980-an, minus kekayaan. Maka lengkaplah jalan untuk mimpi basah itu terwujud. Sisanya adalah hiruk pikuk yang diperlukan oleh sebuah fim. Subplot, istilahnya, yang sebenarnya tidak terlalu penting, tapi perlu ada untuk mendorong cerita supaya bisa laju. Nadia punya kakak Nabila (Wulan Guritno) yang sedang bermasalah dengan suaminya, Dave (Tukul Arwana). Dave yang buruk rupa tapi kaya itu rupanya memang tak tahu diuntung, tak merawat rasa cinta sang istri yang bagai bidadari. Maka dalam keluarga yang dikutuk itu (semua perempuan di keluarga itu berpasangan dengan lelaki mirip hewan, seperti lele dumbo atau beruk) muncullah huru-hara. Huru hara ini bukan yang pertama, karena sebelumnya di kantor Nadia juga terjadi huru-hara akibat soal berbeda.
|
|
|
Clark Kent adalah kritik Superman terhadap kelemahan kemanusiaan Bill – Kill Bill 2
Pernah lihat seorang super hero bajunya luntur di mesin cuci? Super hero itu bernama Spider-Man. Nama aslinya adalah Peter Parker, seorang anak muda lulusan SMA yang kerja serabutan. Sempat menjadi fotografer lepasan di Daily Buggle, menjual potret Spider-Man, alter ego-nya. Sempat menjadi pengantar pizza dengan sebuah skuter mini yang sudah peyot, sampai akhirnya harus memakai kekuatan supernya supaya tak terlambat mengantarkan pizza tersebut. Namun akhirnya ia terlambat juga karena harus menyelamatkan dulu dua orang anak kecil yang sedang bermain di jalan dari sebuah truk yang nyaris melindas mereka. Dasar super hero! Tak bisa lepas dari kewajibannya berbuat baik kepada sesama manusia. Itu semua bisa Anda temukan pada film Spider-Man 2 (2003), sekuel dari Spider-Man yang sukses. Masih dengan sutradara Sam Raimi seperti pada film sebelumnya, film ini mengejutkan banyak orang. Mengapa? Soalnya adalah ternyata film ini menggambarkan seorang super hero yang sangat manusiawi. Ternyata Spider-Man lebih banyak berurusan dengan persoalan-persoalan dirinya ketimbang berkelahi dengan lawan-lawan super yang sulit dikalahkan. Tentu ada penjahat super yaitu Doctor Octopus yang merupakan jelmaan dari Doctor Octavius yang dihormati oleh Peter. Dengan demikian perkelahian ini agak menyulitkan Spider-Man karena ia tahu bahwa dibalik kejahatan sang dokter, ada manusia yang ia hormati di balik itu. Dan ini memperkuat persoalan manusiawi Spider-Man: bahwa persoalannya sebagai super hero sama besarnya dengan persoalannya sebagai manusia biasa.
|
|
|
Oleh Eric Sasono “No” is the saddest experience you’ll ever know (Aimee Mann – One)
Ketika membahas perbedaan film dengan teater, penulis dan kritikus Susan Sontag mengingatkan pada adanya medium dalam film. Film selalu diantarai oleh medium. Dengan medium itu film tidak tampil sebagai sesuatu yang utuh dan diobservasi secara terpisah oleh penontonnya. Melalui medium tersebut, film mampu menghadirkan kecairan. Melalui medium, hadir elemen seperti close-up, slow motion, fast motion dan sebagainya yang tak mungkin ditiru teater. Maka film adalah soal ruang dan waktu dan segala manipulasinya lewat sebuah medium. Seorang perempuan sutradara asal Inggris, Sally Potter, tampak sadar sekali akan perbedaan antara teater dan film ketika menulis dan membuat filmnya, Yes. Film ini mengoptimalkan penggunaan berbagai elemen sinematis dalam menceritakan sebuah sebuah kisah cinta sederhana tentang perselingkuhan kaum high-brow di Inggris. Yes bercerita tentang perempuan yang pada closing title hanya disebut sebagai she (Joan Allen). Perempuan keturunan Irlandia ini adalah seorang peneliti yang bersuami diplomat kaya. Ia jatuh cinta pada seorang koki, yang pada closing title disebut he (Simon Abkarian), asal Lebanon yang di negaranya adalah seorang dokter bedah. Lalu cinta mereka berjalan sebagai sebuah perselingkuhan antar kelas yang berbeda.
|
|
|
oleh Eric Sasono Cerita romansa selalu bersumber dari cinta yang terhalangi. Pada film terakhir Ang Lee, Brokeback Mountain, halangan itu bersumber dari takdir sepasang kekasih ini sebagai kelas pekerja. Kedua lelaki itu bertemu di sebuah gunung yang sunyi ketika menjadi penggembala kambing. Di sana mereka berdua. Menghabiskan waktu; dan rasa itu datang begitu mudahnya. Tak perlu banyak derita, tak perlu banyak pergulatan. Hasrat adalah sesuatu yang tersembunyi di bawah kulit paling luar. Tak perlu banyak usaha agar menemukan jalan. Perkara jalannya homoseksualitas, film ini bagai menjawab ringan: mengapa tidak? Tak ada konflik berarti digambarkan ketika kedua tokoh ini berangkat ke homoseksualitas mereka.
Maka perasaan itu menemukan jalannya dengan sabar. Karena mereka harus menahan. “Kalau kita tak bisa memenuhinya, maka tahanlah” kata Ennis Del Mar (Heath Ledger). “Sampai kapan?” kata sang kekasih, Jack Witt (Jack Gylenhaal). Ennis menjawab bahwa ia tak tahu. Siapa yang bisa tahu perasaan yang harus tertahan takdir semacam ini? Jack nyaris tidak tahan. Karena ia adalah diri yang lebih bebas. Sejak tahun pertama pertemuan mereka ia sudah bercita-cita mengajak Ennis untuk pulang ke kampungnya. Membuka peternakan dan hidup berbahagia bersama di sana. Ennis menolak. Karena ia tak mengerti perasaan di dalam hatinya itu. Ia menangis ketika mereka berpisah pertamakali. Tangisan itu bukan tangis rindu. Lebih mirip penyesalan, kebingungan dan kepasrahan terhadap takdir. Jangan bayangkan takdir sebagai pemaksa. Takdir tidak harus berbenturan dengan keras dengan individu. Ia menyelinap; menyayat perasaan dan hasrat yang paling dalam.
|
|
|