Bergman, oh Bergman! Print E-mail
Written by shela marista   
 
Views 279
Favoured 26

oleh Asmayani Kusrini

Hari itu, Senin, 30 Juli 2007 seorang teman mengirim pesan singkat: “RIP. Ingmar Bergman.” Padahal, teman itu sedang mempersiapkan sebuah workshop film yang akan mengundang Bergman. Saya ingat tahun lalu, dalam sebuah acara retrospektif karya-karya Bergman di Musee Du Cinema, Brussels, saya berencana untuk mengajukan permohonan wawancara. Sayang, saat itu Bergman batal hadir. Kondisi kesehatannya memburuk. Saya pikir, lain kali saya pasti bisa menemuinya langsung. Ternyata 30 Juli lalu, dia pergi.

Tentu saja, saya tidak sedih. Sedikit berkabung mungkin lebih tepat. Sayangnya, berita-berita di koran tidak ada yang memuat secara detail tentang kematiannya di pulau kecil Faro, tempatnya menetap dan hidup tenang sejak tahun 1966. Padahal, saya ingin tahu, apakah semua anak-anak yang tidak pernah dipedulikannya itu hadir? Apakah semua wanita-wanita –kecuali yang sudah meninggal—yang pernah dicampakkannya berkumpul mengiringinya pergi? Dan apakah dia sudah berdamai dengan kebencian yang dalam terhadap ayahnya sebelum bersatu di alam sana?

Saya tidak mengenalnya, tentu saja. Tapi saya menonton film-filmnya. Dan setiap kali saya menonton film Bergman, saya selalu mendapat kesan bahwa tidak mungkin ia membuat film-film itu, menulis dialog-dialognya, kecuali jika ia mengalaminya sendiri. Keyakinan saya terjawab ketika saya membaca otobiografinya, The Magic Lantern dan Images: My Life in Film. Bergman lahir dalam sebuah lingkungan yang rumit, dan tumbuh sebagai pribadi yang tak kalah rumitnya.

Film-film Bergman seperti sebuah cermin yang dihadapkan padanya. Bagai sebuah upaya untuk menengok ke belakang sejenak. Upaya mencari sisi pahit dari hidupnya dan mengulangnya kembali di atas panggung atau di atas layar perak, atas nama kepuasan batin sebagai sang penentu. Tapi semua yang dilakukan Bergman bukanlah upaya untuk introspeksi diri menjadi lebih baik. Film, bagi Bergman, adalah perwujudan dirinya sebagai ‘Tuhan’. Dia membenci Tuhan dan semua kekuasaannya atas nasib. Hanya dunia film dan panggung lah yang memungkinkan dia menjadi penguasa untuk menentukan sang nasib.

Bergman dan Perempuannya

Film Ingmar Bergman yang saya tonton pertama kali, justru adalah filmnya yang terakhir Saraband. Sebuah mini seri sepanjang 220 menit yang dibuat khusus untuk stasiun TV Sveriges Television di Swedia tahun 2003. Setelah ditayangkan di TV Swedia, Saraband kemudian diedit menjadi 107 menit untuk memenuhi standard layar lebar.

Usai menonton Saraband, saya berpikir, pembuatnya pasti agak ‘sakit’. Kok bisa-bisanya terpikir menciptakan tokoh seorang ayah, Johan, begitu pelit terhadap anak sendiri, Henrik; tak mau meminjamkan duit ke Henrik yang menghiba-hiba. Sementara mereka berebut perhatian Karin, anak Henrik dan cucu Johan. Henrik malah tidur seranjang dengan Karin. Ketahuan oleh Marianne, mantan istri Johan yang bukan ibu Henrik. Marianne kebetulan datang berkunjung, dan kemudian ikut terperangkap di tengah-tengah konflik bapak-anak-cucu itu.

Saya lahir dan besar di tengah keluarga yang harmonis. Tak ada konflik berarti dan hubungan keluarga berada di jalur yang saya anggap ideal. Orang tua saya membesarkan anak-anak dengan membuat anak-anak mencintai orang tuanya dan sebaliknya.

Saraband, jauh dari gambaran ideal itu. Yang terasa hanya kebencian yang akut, seakan mereka hidup untuk saling menyakiti dan saling balas membalas dendam. Sementara, sang cucu adalah korban dari ego keduanya. Henrik dan Johan begitu posesif terhadap Karin. Dan lewat tokoh Marianne, kita pun tahu, Johan adalah ayah dan suami yang gagal pula.

Saya sempat tertawa: pahit betul hidup tua yang dibayangkan sang sutradara. Bukankah pada umumnya orang membayangkan akan menghabiskan hari tua dengan damai, dikelilingi oleh cinta? Lewat Saraband, Bergman jelas tak membayangkan hari tuanya seperti itu. Kalau memang benar, jujur dan berani betul si Bergman.

Bukan kebetulan kalau tokoh si cucu dinamai Karin. Hampir 80% tokoh utama perempuan di film-film Bergman diberi nama Karin. Dalam kehidupan nyata, nama ibu Bergman adalah Karin. Dia pernah mengaku, “I’m very much in love with my mother.” Ayahnya, Erik, dianggap saingan. Suatu kali Bergman bahkan berpikir untuk membunuh ayahnya hanya karena merasa ibunya lebih mementingkan sang ayah daripada ia. Bergman juga hampir membunuh adik perempuannya ketika baru lahir, hanya karena ibunya harus mencurahkan perhatian lebih kepada si jabang bayi. Umurnya kala itu baru 4 tahun.

Bergman sangat membenci ayahnya. Dan seperti kutukan dalam keluarga itu, Bergman sendiri gagal sebagai ayah. Salah seorang dari sekian banyak anaknya dengan garang pernah berteriak, “A father? Since when you’re become my father? You never act as one!

User comments Embed in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
Tentang Mengulas Film Print E-mail
Written by shela marista   
 
Views 756
Favoured 32

"Dalam kesenian, satu-satunya sumber informasi yang bebas hanyalah kritik.Lainnya itu iklan."
(Pauline Kael, dikutip oleh JB. Kristanto, dalam “Apa Sih Maunya Resensi Film Itu? Kritikus Film: Paria Superstar”, Nonton Film Nonton Indonesia, Penerbit Kompas, 2004.)

Seperti film Indonesia, tulisan-tulisan tentang film di Indonesia juga tak berkembang jauh secara estetis. Malah, tampak gejala kemunduran.

Rata-rata ulasan film di media massa kita masih merupakan anak dari sebuah tradisi kasip penilaian “bagus-jelek” atas cerita film, ditambah penilaian serbasedikit atas unsur filmis lainnya seperti: keindahan gambar, seni peran, dan kadang musik latarnya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tampak bahkan struktur ulasan film di media massa pun itu-itu saja: (a) ulasan dibuka dengan deskripsi cuplikan adegan yang dianggap paling menarik oleh pengulas; (b) lalu diuraikan sinopsis cerita dan info-info yang dianggap penting tentang film itu, seperti siapa pembuat dan para bintangnya; (c) lalu penilaian serba sedikit tentang beberapa unsur seperti cerita, gambar, seni peran, dan lainnya; (d) dan akhirnya, keputusan akhir bahwa film itu “bagus” atau “jelek” (paling sering, pengulas cari aman dengan varian kategori tengah-tengah: “lumayan”) yang bernada menyaran apakah penonton perlu menontonnya atau tidak.

Adanya kebutuhan untuk tak membosankan, juga perbedaan besar atau kecil ruang yang tersedia untuk ulasan film dalam setiap media, membuat banyak variasi dari struktur ulasan di atas. Misalnya, ada yang mengacak urutan poin di atas. Atau, jika ruang yang tersedia sangat kecil, struktur itu diciutkan menjadi hanya mengandung poin b, c, d, atau b dan d saja.

Masalah utama tradisi ulasan film macam ini adalah pada kategori “bagus” dan “jelek” itu. Pertama, kategori itu lebih condong pada selera si pengulas. Kalau kebetulan si pengulas memang berselera tinggi, maka kategori itu jadi bermanfaat. Kalau (dan ini yang sering terjadi belakangan) kebetulan selera si pengulas kurang terasah karena, misalnya, ia penulis belum berpengalaman yang disuruh menulis bidang “hiburan” yang dianggap “ringan” –nah, pembaca bisa dirugikan.

Kedua, “baik” atau “buruk” itu cenderung pada pemaknaan “menghibur” atau “tidak menghibur”. Jika ini yang jadi patokan, manfaat dan potensi film direduksi belaka oleh sang pengulas. Sebab, makna “menghibur” atau “tidak menghibur” lebih sering didefinisikan oleh kelaziman dalam industri hiburan arus utama (mainstream). Agar “menghibur”, misalnya, film harus disederhanakan; tak boleh membuat penonton berpikir; kalau bisa, banyak menyentuh tombol-tombol emosi paling dasar (ngeri, tegang, senang, gembira) dengan formula-formula yang sudah baku. Kata “menghibur” jadi tunggalmakna.

Sering juga, industri hiburan arus utama memaknai kata “hiburan” sebagai “eskapisme”. Logikanya begini: orang menonton film ingin melupakan kenyataan hidup yang susah. Dengan mematok sifat “menghibur” (dalam pengertian arus utama) sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah film, sang pengulas cenderung memenangkan film-film eskapis di atas jenis film lain. Potensi film untuk “menghibur” akal budi penonton, dengan mengajak penonton memikirkan sebuah masalah hidup, misalnya, cenderung direduksi.

Namun, secara paradoksal, kecenderungan pada film eskapis dibarengi pada pemujaan terhadap gaya realisme. Sederhananya, film adalah make-believe (atau, meminjam terjemahan yang baik dari Eric Sasono: “reka-percaya”); dan jurus yang dianggap paling ampuh untuk mencapai efek reka-percaya ini adalah realisme.

User comments Embed in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
Gie : Representasi Berwajah Ganda Print E-mail
Written by shela marista   
 
Views 1008
Favoured 27
Pendahuluan

Film Gie dibuat oleh sutradara Riri Riza dengan produser Mira Lesmana pada tahun 2005, 35 tahun setelah Soe Hok Gie meninggal. Film ini meraih 3 piala Citra dari 12 nominasi, salah satunya sebagai film terbaik di FFI 2005. Film ini bercerita tentang Soe Hok Gie, seorang pemuda keturunan Tionghoa yang hidup di saat Indonesia sedang mengalami perubahan besar.

Film ini mengangkat kisah nyata kehidupan Soe Hok Gie, selanjutnya disingkat sebagai SHG saja, aktivis angkatan '66. Dbuat dengan melibatkan lebih dari 2.500 pemain dan kru dan syuting di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, kaki gunung Merapi, puncak Pangrango, dan lembah Mandalawangi.

SHG adalah wakil dari golongan menengah berpendidikan. Ia putra keempat dari seorang penulis dan redaktur berbagai surat kabar seperti Tjin Po, Panorama, Hwa Po, dan masih banyak lagi. Ayahnya bernama Soe Lie Piet dengan nama lokal, Salam Sutrawan. SHG lahir 17 Desember 1942, ketika Jepang baru saja masuk ke Indonesia. Nama Soe Hok Gie berasal dari dialek Hokkian dari nama Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin. Leluhurnya berasal dari Provinsi Hainan, RRT.

Pada umur lima tahun, SHG masuk sekolah Sin Hwa School, sebuah sekolah khusus untuk warga keturunan Tionghoa. Ia lalu melanjutkan ke SMP Strada dan Kolese Kanisius Jakarta, yang merupakan salah satu sekolah terbaik dengan populasi siswa Tionghoa yang cukup besar[2].

Sejak kecil, SHG telah menunjukkan bakat sebagai anak yang cerdas, setia kawan dan memiliki sikap kritis. Hal ini sering menimbulkan situasi yang menyulitkan dirinya. Semasa menjadi mahasiswa di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia, SHG tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan idealis.

Situasi politik saat itu membuat mahasiswa terbagi atas berbagai kelompok yang saling bentrok. Pada bulan September 1965, terjadi peristiwa G-30 S sebagai puncak pertentangan antara pihak militer dan Partai Komunis Indonesia. Peristiwa ini diikuti demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa, jatuhnya Presiden Soekarno, dan pembubaran PKI yang diikuti pembantaian massal yang menimbulkan korban hingga lebih dari 1 juta orang.

SHG merasa sangat kecewa. Ia adalah mahasiswa yang turut berdemonstrasi menuntut pengunduran diri Soekarno, tetapi setelah Soekarno tidak lagi berkuasa, dan digantikan Soeharto, teman-temannya justru ikut bermain di panggung politik nasional. Ia kecewa karena ia merasa teman-temannya telah mengkhianati idealismenya. SHG tetap kritis dan menyampaikan kekritisannya baik secara langsung maupun lewat tulisan-tulisannya di media massa. Ia menjadi musuh bagi teman-temannya. SHG meninggal pada bulan Desember 1969 di puncak gunung Semeru dalam usia yang masih belia.[3]

Soal SARA

Film ini menarik karena mengetengahkan bukan saja ikon anak muda, tapi juga sosok cukup kontroversial dalam gerakan pemuda di Indonesia. Selain karena sikapnya yang konsisten, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”, ia dikenal sebagai pemuda keturunan Tionghoa yang terjun ke gerakan dan politik praktis.

Film Gie sendiri merupakan film pertama generasi pasca-1998 yang mengangkat sosok sejarah yang pernah benar-benar ada dalam sejarah Indonesia. Tetapi lebih dari itu, film ini penting dicatat karena menghadirkan satu persoalan penting yang melingkupi wacana film Indonesia, yakni persoalan representasi etnis, terutama etnis Tionghoa dalam film Indonesia. Dalam film Indonesia, terutama masa Orde Baru, masalah ras dan representasi identitas baik yang berdasarkan suku, agama, dan ras, apalagi kelas adalah masalah yang pelik dan sensitif. Bukan hanya dalam kehidupan nyata tapi juga di media. Ada larangan untuk membicarakan SARA karena membicarakan SARA, termasuk di dalamnya persoalan kelas sosial bisa jadi subversif. SARA dan kelas sosial dianggap ancaman terhadap kesatuan nasional.

Tionghoa adalah persoalan kedua. Menjadi Tionghoa di Indonesia bisa merupakan persoalan yang benar-benar rumit. Meski memiliki banyak peran dalam perkembangan sejarah Indonesia, etnis Tionghoa dianggap minoritas dan ‘jahat’ secara ekonomi karena sejak masa kolonial mereka mendapatkan hak istimewa sebagai pedagang perantara antara kaum kolonial dan apa yang disebut bangsa pribumi.

Sebenarnya, setelah reformasi politik pada tahun 1998, Nia Dinata telah mulai menggarap dan menghadirkan sosok Tionghoa dalam filmnya, Cau Bau Kan (2001). Film yang juga menggunakan pendekatan sejarah ini, menceritakan tentang seorang perempuan Betawi yang menjadi istri seorang Tionghoa, Tan Peng Liang pada masa awal abad 20. Seluruh film Cau Bau Kan menceritakan tentang kehidupan kelompok-kelompok Tionghoa dan hubungannya dengan penduduk non-Tionghoa (sering disebut pribumi, seperti Jawa, Betawi, Sunda, dan sebagainya). Tetapi posisi film Gie menjadi pantas dibahas karena tidak seperti sosok Peng Liang yang pedagang / pebisnis tembakau, sebuah pekerjaan stereotip etnis Tionghoa, film Gie menghadirkan representasi yang sangat berbeda dari etnis Tionghoa kebanyakan. Di sinilah wacana representasi etnis dalam film Indonesia menjadi menarik. Gie sebagai teks sejarah maupun teks film menghadirkan dilema dan kontradiksi dalam soal representasi etnis tertentu dalam film.

Riri sendiri tidak mengakui bahwa film ini memiliki sentimen ras tertentu. Ia menjelaskan, "Film Gie adalah sebuah film yang berfokus pada seorang karakter yang pernah hidup di sebuah masa yang bisa dibilang paling penting dalam sejarah modern Indonesia, dan ia mencatat pergolakan pikiran, perasaan, dan situasi-situasi yang terjadi di sekelilingnya melalui sebuah catatan harian. Namun, sama sekali tidak ada unsur subversif maupun SARA di dalamnya." Meski demikian, nanti kita akan melihat bahwa dalam hal representasi etnis, film Gie akan menduduki posisi yang sangat sentral.

Pembahasan representasi Tionghoa dalam sinema Indonesia mungkin bisa dibilang hal yang cukup baru. Meski dibangun dan dikembangkan oleh kaum Tionghoa, cerita atau tema (subject-matter) etnis Tionghoa dalam sinema Indonesia relatif jarang diangkat. Soal representasi etnis pun dibahas terbatas, pada misalnya etnis Betawi yang merajai film-film dekade 1970-an (Si Doel anak Betawi, film-film yang dibintangi oleh Benyamin Suaeb, dan sebagainya). Namun sebelum bicara soal etnis ini, lebih dahulu bicara soal representasi.

User comments Embed in website Favoured Print Send to friend Save this to del.icio.us Related articles Read more...
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Results 22 - 24 of 24

Copyright © 2008 filmpendek.org | Privacy Policy | Image Hosting

Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik

eXTReMe Tracker