|
karya : M. Iksaka Banu
Keterangan : Cerpen ini adalah cerpen sebelum dimuat (versi pengarang)
Raung sirine terdengar lagi. Kadang menjauh, kadang begitu dekat. Apakah polisi telah mencium kehadiranku di sini, dan sedang menyisir kota?
Tanpa kesadaran penuh, kususupkan tubuh ke pintu bangunan temaram di sisi kiri, untuk kemudian terkesiap. Ini Blue Saxophone. Satu-satunya pub dengan nuansa jazz di wilayah ini. Sebuah pub kecil. Tempat seluruh kisah ini bermula. Apakah aku harus percaya teori yang mengatakan bahwa pembunuh punya kecenderungan berziarah ke tempat di mana ia memulai sejarah kelamnya?
Tapi ini memang Blue Saxophone. Musik live saban Jumat, seperti malam ini. Dengan panggung sempit, pampat asap rokok. Dikelilingi dinding kayu, tempat bergantung tiga buah neon sign merek bir yang tidak pernah berfungsi sempurna sejak dulu. Sama seperti penyejuk ruangannya yang melulu menyemburkan angin, bukan hawa dingin. Membuat udara menjadi berair dan apek.
Lucunya, dulu aku tak keberatan dengan semua ini. Mungkinkah suasana hatiku yang telah berkhianat? Khianat. Berkhianat. Pengkhianat. Astaga. Belakangan ini kata-kata itu demikian akrab menyapa.
Kuperbaiki letak kacamata dan kumis palsuku. Kemudian, setengah menunduk, kulempar pandangan ke panggung. Seorang pemusik tambun memejamkan mata saat menapak ulang bait-bait terompet milik Dizzy Gillespie. Permainannya tidak begitu buruk. Meski demikian, beberapa pengunjung mabuk lebih tertarik mengikuti siaran olah raga dari televisi yang digantung dekat bar.
Ke tempat itulah langkah kuayun.
Ya, di meja bar ini, di sudut yang paling miskin cahaya, dekat deretan gelas high ball, lima tahun yang lalu, kujumpai wanitaku. Perempuan kecil dengan dagu kelewat tirus untuk dahinya yang lebar. Bentuk wajah yang ketika itu cocok sekali dengan angan-anganku.
Pertama terlihat, ia hanyalah sepotong siluet ganjil di depan lampu kulkas besar yang menyala lantaran pintunya terbuka lebar. Sementara aku adalah seorang pengunjung yang baru saja menemukan tempat duduk nyaman di hadapannya.
Di sini. Persis di bangku bundar yang sedang kududuki saat ini.
"Maaf, wanita apa?" Sambil mengangsurkan minuman pesananku, ia mencondongkan badannya untuk memperoleh pendengaran lebih baik.
"Wanita Sebelum Malam. Judul film yang akan kubuat." Kusulut sebatang rokok. "Dan sekali lagi, kutawarkan kepadamu sebuah peran di situ."
"Anda orang film?"
Kusodorkan kartu nama. "Aku sedang memeriksa lokasi syuting dekat sini, sambil membantu departemen talent mencari pemeran utama wanita."
"Arya Panji Diwangkara? Astaga. Benar!" Ia mundur setelah melirik kartu namaku. "Seribu Nyawa Untuk Romeo? Kekasih Bunga Besi?"
"Suka film-filmku? Bagus sekali."
"Ya ampun, Arya Pe De! Cult movie! Film Noir!" Wanita itu tak berusaha menyembunyikan pendar gembira di matanya. Pada kejernihan pendar itu, sekaligus kutangkap isyarat kecerdasan.
"Aku Anggi. Anggraeni Barati. Aku buta soal akting, meski gemar nonton film. Tapi aku tertarik."
Kuberi ia gambaran singkat tentang seni peran dalam dunia layar lebar. Tampaknya ia sangat serius. Sayang, hasil audisi keesokan harinya tak terlalu istimewa. Johari, kameraman yang sering membantuku meraih penghargaan, juga tidak terlalu optimis. Tapi aku bergeming. Peran Maizura tetap kuberikan kepada Anggi.
Apabila kukenang kembali keputusan itu, bulu kudukku meremang. Telah kupertaruhkan jutaan rupiah dari investor berikut nasib seluruh awak filmku semata kepada suatu zat ajaib bernama Naluri.
Mungkin waktu itu pertimbanganku sederhana: Dalam empat minggu ke depan, toh kami belum akan mengambil adegan yang melibatkan Anggi. Masih ada sedikit waktu untuk belajar. Jadi, kuminta gadis itu duduk di sebelahku, menyimak akting para pemain. Meresapi teks seraya menyuarakannya kembali tanpa terdengar seperti hafalan. Selain itu, kuminta ia berlatih mengolah kelenturan tubuh kepada Miss Tasya Rayanti, pebalet legendaris yang kuikutsertakan dalam film ini.
Anggi melahap semua pengetahuan tadi seperti singa kelaparan berjumpa mangsa. Sampai tiba saat itu. Pengambilan adegan nomor 40 sampai 48. Dialog di atas tempat tidur antara Karma dengan kekasih gelapnya, Maizura. Istri Jakobus Van Eyk, juragan teh Priangan.
Analisa sudut kamera, penataan lampu serta properti dimulai dini hari dan baru siap enam jam kemudian. Hawa letih terungkap dari segala sudut. Hampir semua orang berharap agar pemain baru itu tidak membuat jam tidur malam semakin tipis. Aku ingat, rasanya dapat kudengar detak jantung orang-orang ini saat kuteriakkan aba-aba: "Action!"
Anggi memulai kalimatnya dengan gugup. Tapi berikutnya, jagat raya seolah tercipta untuknya: Bahasa tubuh yang lentur. Tarikan wajah yang sangat cair. Kalimat-kalimat sulit yang berhasil meluncur tuntas dari bibirnya. Maizura Van Eyk hadir utuh di hadapan kami.
Kami jabat tangan Anggi. Kami beri ia ciuman. Seorang bintang telah lahir. Dan cahayanya terus bersinar, sampai seluruh adegan selesai tiga minggu berikutnya.
Hasil syuting dibawa ke Australia untuk diproses. Lusa, tentu aku menyusul. Namun petang itu, ketika seluruh kru telah bubar, kuajak Anggi keBlue Saxophone. Tak ada salahnya sedikit hiburan setelah kerja keras berbulan-bulan, bukan?
Hari itu hari Jumat. Sama seperti malam ini. Terekam jelas di benak. Serasa kemarin. Anggi berpamitan kepada rekan-rekannya di pub, dan sempat berperan sebagai bartendris untuk terakhir kalinya sebelum duduk menemaniku.
Sambil meniti malam, melalui beberapa shot tequila kucoba menghapus peran guru-murid yang terlanjur terbentuk selama syuting.
"Berhentilah berterimakasih," kataku. "Semua sudah ada dalam dirimu. Aku sekadar memanggil. Yang penting, mulai sekarang lupakan sosok Maizura. Jangan mengulang bahasa tubuh dan air muka serupa di film berikutnya."
Anggi tertawa. "Lihatlah. Kurasa aku masih butuh banyak bimbingan. Kau tetap guruku."
Kami saling tatap. Musik live dengan terbata menirukan alunan terompet Miles Davis dalam Summertime. Kuikuti dorongan hati untuk merengkuh pinggang Anggi, lantas menuntunnya ke panggung.
Kami masuk ke tengah lingkaran lampu sorot yang redup. Mendengarkan riwayat hidup Miles Davis yang melayang di udara lewat moncong terompet. Perjalanannya menyusuri luka malam. Juga episode kebosanannya akan pekerjaan yang sangat dicintainya.
Aku bersyukur, belum bosan dengan pekerjaanku. Hidup yang sesungguhnya bahkan baru saja kumulai. Dan lelatu penyulut semangat itu ada dalam pelukanku malam ini. Bergerak lambat bersamaku. Mengekor tiupan terompet yang magis. Seperti sepasang tikus Hamelin yang patuh kepada seruling ajaib.
"Mengapa tak menikah lagi?" Bisik Anggi.
Aku tersenyum. Memang ada padaku sepotong cerita tentang cinta yang berkarat setelah lewat dua puluh tahun. Dan betapa karat itu nyaris tak menyisakan ruang lagi. Tapi alangkah sayang, menukar malam penuh gelora dengan hikayat purba.
Harus kuakui, irama blues, wangi parfum bercampur keringat ketiak wanita, dan barangkali juga alkohol, telah membangkitkan ilusi romantik yang agak berlebih. Kubawa bibirku hinggap ke bibir Anggi. Sedikit ragu pada awalnya, namun ternyata aku tidak sendirian dengan segala perasaan tadi.
Kami berdekapan. Saling melumat. Dan pada klimaksnya, menemukan diri kami terdampar di ranjang sebuah motel dalam bulir keringat serta sisa uap erotik yang mengendap di sana-sini.
Seiring pola nafas yang kembali teratur, kuteliti keadaan kami saat itu. Seorang pria Setengah baya. Setengah mabuk. Berbaring telanjang bersama sekuntum mawar belia. Terlalu gilakah bila kisah ini dikekalkan?
"Menikahlah denganku." Kusibak rambut di atas telinga Anggi. "Kita ciptakan dunia yang lebih berwarna."
Aku lupa jawaban Anggi. Mungkin ia tak menjawab. Yang jelas, pernikahan kami setahun kemudian nyaris bersamaan waktu dengan datangnya kabar gembira lainnya: Wanita Sebelum Malam menyabet lima penghargaan tertinggi dalam Festival Film Indonesia. Di antaranya: Penyutradaaran Terbaik, serta Pemeran Utama Wanita Terbaik.
"Dan juga kado pernikahan terbaik," kata Anggi sewaktu diwawancarai Media Infotainment di Ubud, Bali, pada hari kedua bulan madu kami.
"Tidak menyesal menikahi duda tua?" Kudengar seorang wartawan berteriak.
Aku maju. Bersiap memaki seperlunya. Tapi Anggi menahan.
"Duda tua ini adalah Arya Diwangkara. Satu dari sedikit sutradara terhormat di negeri ini. Apa yang harus disesali?"
Waktu itu, aku bangga setengah mati. Wanitaku, singa betinaku, ternyata perempuan berbudi yang tahu bagaimana harus bersikap. Tahu bagaimana meletakkan pondasi sebuah perkawinan. Tapi aku lupa, ketenaran dan rumah tangga bukanlah dua kata yang selalu cocok dipersandingkan.
Ketenaran adalah telepon selular yang berdering pada jam-jam mustahil, berisi perintah agar bersiap untuk dijemput syuting, mengisi kuis TV,talkshow, atau memenuhi jadwal pemotretan. Ketenaran juga berarti masuknya orang-orang asing ke pekarangan rumah untuk wawancara, syuting reality show atau sekadar foto bersama. Dan pemilik kebisingan di atas adalah istriku.
Rumah tangga, sementara itu, berarti jam-jam makan yang ngungun di ruang tengah yang terlalu besar untuk satu orang. Rumah tangga juga berarti percakapan tentang masa depan yang semakin kabur, serta perdebatan tak berujung tentang hal-hal remeh. Kesepian, kejenuhan, kejengkelan. Semua sepenuhnya milikku.
Sebelum menikah, aku sudah lama hidup sebagai pesohor dengan sebagian hak-hak pribadi yang juga terampas. Tapi setidaknya, aku kenal betul diriku, sehingga tahu bagaimana bertahan hidup sebagai manusia biasa, dan mematahkan setiap kabar miring dengan cerdik.
Setelah menikah, aku memang tak selalu siap bicara apabila pertanyaan wartawan berkaitan dengan perilaku istriku. Misalnya: "Siapa pria di kamar 301 Grand Duchess Hotel bersama Anggi pekan lalu?" atau "Benarkah pria muda yang berjalan bersama Anggi di pantai Marina itu pacar gelapnya?"
Aku bukan pencemburu. Bukan pula orang asing dalam hal manipulasi fotografi, sehingga tak pernah risau dengan gambar-gambar bodoh hasil rekayasa para amatir di koran gosip maupun internet. Apalagi sekadar kabar murahan semacam tadi.
Meski demikian, kuakui, perjumpaanku dengan Anggi semakin tak kerap. Apalagi saat ini aku juga tengah sibuk dengan filmku berikutnya. Berkirim kabar lewat telepon, meski cukup teratur, tentu tak bisa menyeberangkan kecupan atau belaian.
Sejauh ini, kulihat Anggi sanggup membuktikan bahwa semua isu buruk menyangkut namanya hanyalah berita tak berwujud. Namun suatu pagi, agak tergopoh, Johari masuk ruang kerjaku. Dikeluarkannya sekeping DVD lalu diputarnya di komputer yang terletak di atas mejaku.
"Aku menemukannya di sebuah rumah pasca produksi," katanya. "Editornya adik kelasku di bangku kuliah. Ia telah menerima uang bungkam dari Anggi. Tapi ia sangat hormat kepadamu. Jadi, ia menelponku kemarin malam. Maaf, Bung. Aku harus mengatakan sendiri kepadamu. Semua ini asli."
Kupandang layar komputer. Sejak remaja, tak terhitung banyaknya film biru yang kusaksikan. Aku juga sudah hafal seluruh lekuk tubuh istriku tanpa busana. Namun menyaksikannya telanjang sambil melonjak-lonjak gaduh dalam dekapan lelaki lain, rasanya demikian menyesakkan dada. Kubuka jendela. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya.
"Perhatikan setting dan propertinya." Johari menunjuk. "Ruang tidur, ranjang Victoria, boneka beruang di depan pintu masuk. Ingat sesuatu?" tanyanya.
"Wanita Sebelum Malam," gumamku.
"Tepatnya, ini adalah versi biru dari film kita, dengan pemeran utama wanita yang sesungguhnya. Beri ijinmu, akan kuhancurkan master-nya sebelum film buruk ini beredar ke mancanegara."
Mendadak aku terpingkal-pingkal. Membuat Johari melongo.
"Bung," kupegang tangannya sambil masih terpingkal. "Kalau tujuannya murni komersil, aku tak keberatan. Darahku mendidih justru lantaran memikirkan kemungkinan lainnya." Aku berhenti tertawa. "Kurasa jalang ini ingin menyimpannya sebagai koleksi pribadi. Semacam suvenir melankolis bagi kekasihnya, si bedebah pria ini. Kau kenal orang ini?"
"Tidak. Tapi mudah diusut. Termasuk produser dan kameramannya." Desah Johari. "Aku hanya tak habis pikir. Dari seluruh filmnya, mengapa Anggi memilih Wanita Sebelum Malam?"
"Siapa bisa menebak pikiran pelacur?" Tiba-tiba mulutku menjadi sangat kotor. "Pulanglah, Har. Biarkan aku menyelesaikan ini."
Johari melotot. "Jangan gila, Arya. Aku tak mau terseret."
"Ini tak ada hubungannya denganmu. Pulanglah."
Kutatap sosok Johari sampai lenyap dari bingkai jendela. Lalu kuambil sebotol bir dari lemari pendingin. Kureguk perlahan sambil memutar film itu sekali lagi.
Anggraeni Barati. Bintang tenar. Delapan film layar lebar yang selalu sesak penonton. Wanitaku. Singa betina. Pelacur murah. Menggeliat penuh gairah di atas otot-otot kelamin lelaki yang lebih ranum dari suaminya. Seperti Maizura Van Eyk!
Kurasa istriku telah melupakan nasehatku. Ia tak bisa lepas dari sosok Maizura. Alangkah malang. Tapi aku seorang suami yang baik. Selama tiga tahun menikah, selalu kupenuhi keinginannya dengan senang hati. Aku terlalu cinta kepadanya. Kurasa aku juga wajib mengabulkan permintaannya kali ini. Kuraih telepon selularku.
"Hai, Old Man." Kudengar sapa merdu dari ujung telepon seperti biasa. Suara Anggi. Tak seperti hari-hari kemarin, sebutan Old Man kini terasa harafiah. Menusuk hati.
"Hai, Sayang. Kubaca fotokopi callsheet-mu kemarin. Esok pagi, lokasi syuting terakhir tetap di Bandung, bukan?" tanyaku.
"Betul, kenapa? Kangen?"
"Blue Saxophone," kataku. "Bagaimana kalau kita mampir ke sana? Aku sudah selesai dengan syutingku, dan tiba-tiba ingin sekali ke sana."
Anggi tertawa.
"Apa kataku dulu? Kau terlalu romantis, Old Man. Sinta mengajak ke Cihampelas besok malam. Tapi, ayolah. Blue Saxophone. Setengah delapan malam? "
"Setengah delapan malam. Tequila dan Live Music."
"Oke, Old Man. Sampai teler ya?" Anggi menyudahi pembicaraan.
Aku suami yang baik. Selalu kupenuhi permintaan istriku tercinta. Ia ingin menjadi Maizura Van Eyk. Ia ingin teler.
Kuturuni tangga menuju ruang koleksi kerisku. Kuraih botol kecil berisi cairan bening. Cairan yang selalu kuoleskan pada bilah keris setiap selesai menjamasinya tiap tahun. Lalu aku mulai menelepon biro perjalanan untuk memesan tiket kereta api terpagi ke Bandung.
Itu peristiwa sepekan yang lalu.
Dua ratus jam sebelum seluruh stasiun televisi menayangkan wajah Anggi dan wajahku berulang kali seraya membubuhkan judul ‘Tragedi’ pada rentetan berita yang menyertainya. Itu sepekan lalu.
Sementara malam ini, di meja bar Blue Saxophone, potongan adegan akhir Wanita Sebelum Malam kembali menari-nari dalam pikiran: Pesta tahun baru 1938. Maizura Van Eyk yang setengah mabuk selesai berdansa, lalu pergi sebentar mengambil mantelnya. Ia baru saja memberi tahu suaminya bahwa ia memiliki kekasih lain, seorang pribumi, dan ingin bercerai.
Jakobus Van Eyk menerima berita itu dengan senyum terkembang. Lalu menuang arsenik ke dalam gelas anggur Maizura. Kematian datang lima jam kemudian. Waktu yang cukup untuk pergi jauh atau menyusun alibi.
Tapi aku bukan Jakobus. Aku tidak lari. Aku memilih berkunjung kembali ke Blue Saxophone malam ini. Mencoba berkawan dengan rasa sakit dan kenangan. Belajar menyadari, bahwa seluruh hidupku ibarat ramuan Film Noir yang nyaris usang: Getir, gelap, berdarah. Dan kurasa aku berhak membuat ending sekehendakku. Aku sutradara.
Kubuka kacamata dan kumis palsu. Seorang tamu di seberang mengangkat telepon sambil terus menatap. Mungkin ia sedang menghubungi polisi. Tapi mungkin juga hanya ingin mengucap rindu kepada kekasihnya di kota lain. Entahlah. Irama jazz membuat semua hal menjadi mungkin.
Kulirik sekali lagi pemusik tambun di atas panggung. Menurutku, lengking terompet Miles Davis agak berbeda dengan Dizzy Gillespie. Lebih pahit. Lebih nyeri. Dan aku sangat mencintai istriku. Di mana pun ia berada.
|