Kuharap anak-anakmu menyukai cerita ini. Aku sudah mengubah banyak sehingga ia tidak sama dengan apa yang kupikirkan semula. Kau tahu, dulu aku tegang sekali melihat anak-anakmu khusyuk mengunyah televisi. Aku menganggap benda itu sebagai keparat dan kau justru menyuruh anak-anakmu bersahabat dengannya. "Anak-anakmu akan ditenungnya menjadi cacingan." Aku ingin menampar mukamu; aku ingin menghajar anak-anakmu. Tapi kini tidak lagi. Aku sekarang orangnya bisa tahan. Sudah lama bukan celeng lagi.*) Maka janganlah menaruh curiga pada apa yang sebentar lagi kututurkan kepada mereka; aku sudah mempertimbangkan cerita ini matang-matang dan yakin bahwa ia tidak akan mengacaukan isi kepala anak-anakmu. Anggap saja ini upaya tulusku untuk mendekati dan merangkul mereka.
Jadi, inilah cerita untuk anak-anakmu....
"Saya sudah tidak tahan," kata perempuan itu.
Mereka bercakap di teras pada suatu sore dan perempuan itu sangat sadar bahwa dirinya cantik. Lelaki di depannya, seorang wartawan yang lekas terharu, sudah merekam seluruh ucapan perempuan itu sejak siang dan kelihatannya masih ingin melanjutkan wawancara hingga larut malam. Tetapi percakapan itu berakhir sebelum senja ketika perempuan itu lama sekali menerima telepon dari seseorang dan si wartawan pun, dalam satu jam terakhir, sesungguhnya sudah banyak mengada-ada.
Wawancara dengan perempuan tak tahan itu disiarkan keesokan harinya dan wartawan-wartawan lain memburu perempuan itu setelah gunjingan mengembang. Kepada para pemburu yang datang kemudian, perempuan itu membuat pengakuan yang sama, "Saya sudah tidak tahan." Di muka bumi ini, kau tahu, banyak perempuan lain yang juga tidak tahan, tetapi para wartawan tidak menguber orang yang biasa-biasa saja. Perempuan yang kuceritakan ini beruntung karena ia bukan orang yang biasa-biasa saja. Sejak umur tiga belas ia sudah menyanyi, semula di panggung-panggung dangdut pasar malam dan akhirnya di layar televisimu.
Agar kau tak menganggapnya congkak karena ia sadar bahwa dirinya cantik, ada baiknya kupertegas sekalian bahwa ia memang cantik. Bayangkan saja wujudnya sebagai perpaduan antara sosok mahasiswa teladan dan penari sirkus yang menakjubkan. Maksudku, jika ia diam ia akan tampak seperti mahasiswa teladan, jika ia bergoyang kau akan sepakat bahwa ia sesegar penari di sirkus-sirkus oriental; ia mampu meliukkan pinggulnya dengan getar yang meringkus nyali para istri setengah baya dan mengundang simpati para suami setengah buaya.
Kadang aku berpikir bahwa ia akan mudah merebut perhatian para juri sekiranya ia mau mengikuti kontes ratu-ratuan. Bahasa Inggrisnya mungkin agak remuk dan pengetahuan umumnya sedikit kacau dan ia akan menjawab setiap pertanyaan dengan cara berbelit-belit, tetapi itu semua adalah kelemahan yang mudah dimaafkan ketika seseorang memiliki lekuk tubuh yang mengundang simpati. Kupikir kau pun sanggup memaafkan kelemahan-kelemahan itu jika kau menjadi juri kontes ratu dan, lebih dari itu, ia sendiri sanggup menutupi kelemahan-kelemahan sepele itu dengan getar pinggulnya.
Namun ia hanya memilih bernyanyi dan tidak mengikuti kontes ratu dan ia tidak perlu khawatir terhadap apa pun yang menjadi pilihannya. Sebuah penelitian mutakhir, kau tahu, membuat kesimpulan serius bahwa perempuan cantik cenderung memiliki nasib yang lebih baik ketimbang perempuan buruk rupa. Dan, seperti menegaskan kesimpulan penelitian itu, perempuan dalam dongeng ini pun memiliki nasib baik. Seusai pemilihan umum, setelah beberapa orang yang mengurusi penyelenggaraan pemilihan itu digiring ke sel-sel penjara, perempuan itu mendapatkan jodoh di hari berikut --seorang anggota DPR yang baru memenangi jatah kursi jatuh hati kepadanya.
"Pinggulmu sangat indah," kata lelaki itu.
"Kau sedang berkampanye, kan?" balas perempuan itu.
"Aku sedang mengagumimu."
"Aku tak percaya padamu."
"Percayalah, kau pantas menjadi istriku."
Anak-anak sekalian, perempuan itu memang pantas dijadikan istri oleh siapa saja. Dan, sebaliknya, tak siapa saja pantas menjadikannya istri. Namun politisi yang memiliki kursi adalah orang yang juga bernasib baik dan selalu pantas melakukan apa saja. Tak sulit baginya untuk melamar penyanyi dangdut sebagai istri. Tak sulit pula bagi penyanyi dangdut untuk mendapatkan politisi. Kalian tahu, saat itu adalah masa kejayaan penyanyi dangdut di panggung politik.
"Mereka akan menjadi pasangan yang baik di kamar tidur dan saling melengkapi di panggung-panggung kampanye," kata Surapong Surakit, penulis Cirebon berdarah Thailand yang rajin mengikuti kasak-kusuk. Ini pandangan yang jernih dan memang seperti itulah adanya: sang politisi, dalam hal ini pihak lelaki, bertugas mengguyur kerumunan dengan janji-janji; dan sang istri, yang kedatangannya diumumkan pada bentangan spanduk-spanduk, menghibur kerumunan yang gelagapan oleh janji-janji.
Maka, didukung oleh suratan takdir dan pandangan yang jernih, kedua orang yang sama-sama bernasib baik itu pun menikah. Setengah tahun utuh tak ada berita tentang mereka dan pada bulan ketujuh perempuan itu mengumumkan perbuatan tak baik yang dilakukan oleh suaminya. Semoga dosanya diampuni! Seorang istri yang terpuji, anak-anakku sekalian, sama sekali tidak boleh menyebar-nyebarkan aib suami sendiri, namun perempuan itu justru menyampaikannya kepada wartawan. "Daripada terus-menerus membuat dosa, lebih baik kami bercerai saja. Saya sudah tidak tahan." Ia terdengar seperti pemimpin gerakan yang geram menuntut kebebasan.
Syukurlah bahwa perempuan itu tetap tahu batas. Ia tidak menyeruduk suaminya dengan semua rinci yang membuat ia mengibarkan bendera putih hanya dalam tempo enam bulan pernikahan. Lebih dari itu, kau harus mengakui bahwa perempuan ini cerdas. Ia tahu cara menggaet pembaca. Ia memberimu rasa penasaran dan membiarkan pikiranmu merayap ke segala arah. Kau bisa menduga bahwa perempuan itu mungkin merasa tertekan karena pinggulnya dikunci: si suami tidak rela istrinya menjadikan diri sendiri objek wisata. Kau bisa menduga bahwa si lelaki mungkin bising sekali; ia terus-menerus berkampanye bahkan ketika mereka berdua rebah di ranjang tidur.
"Sebetulnya saya ragu-ragu waktu memutuskan menikah dengannya," perempuan itu memberikan pengakuan lain tetapi tetap tanpa penjelasan yang memadai tentang apa yang membuatnya ragu-ragu. Sesungguhnya saya pun ragu-ragu menceritakan dongeng anak seperti ini. Sebuah dongeng tanpa peri dan putri, dan hanya menyodorkan tokoh utama anggota DPR dan penyanyi dangdut, apakah ia bisa menjadi dongeng yang menidurkan anak-anakmu?
Aku sempat putus asa beberapa saat menghadapi anggota DPR dan penyanyi dangdut ini dan aku merasa sedang melakukan ikhtiar yang imbisil untuk menjadikan mereka tokoh dongeng anak-anak. Pikiranku mulai goyah; mungkin mereka lebih tepat dijadikan tokoh utama cerita dewasa. Tetapi dugaan itu pun bisa keliru. Cerita-cerita dewasa yang bernilai sastra biasanya mengisahkan pelacur yang tertindas atau orang miskin yang dihina satpam orang kaya atau orang desa yang berfilsafat. Mungkin penyanyi dangdut tak terlalu mengkhawatirkan; ia masih enak dijadikan tokoh utama. Tapi anggota DPR? Ia bukan profesi yang sastrawi dan betul-betul tidak mengundang keharuan.
Dalam kegoyahan pikiranku, aku sudah hampir menyimpulkan bahwa ada problem kesastraan yang serius pada profesi anggota DPR: ia tidak enak dituliskan, apalagi dijadikan tokoh utama sebuah cerita.
Barangkali aku akan putus asa selamanya jika tidak menemukan pernyataan yang menenteramkan hati dari buku-buku teknik menulis. Kata buku-buku itu: "Apa saja bisa ditulis", "Gagasan untuk sebuah cerita bisa berasal dari mana pun." Alangkah mulia kalimat-kalimat itu. Pikiranku kembali teguh dan langsung kuputuskan bahwa anggota DPR pun bisa ditulis; dan perselisihan anggota DPR vs penyanyi dangdut layak dijadikan cerita. Lalu, dengan kepercayaan diri yang pulih, aku segera menetapkan ciri-ciri fisik keduanya. Mereka haruslah orang-orang yang cantik dan tampan, sebab dongeng untuk anak-anakmu sudah selayaknya ditokohi oleh orang-orang yang cantik dan tampan. Karena itu, dengan senang hati kunyatakan di muka bahwa penyanyi dangdut itu adalah perpaduan antara mahasiswa teladan dan penari sirkus oriental. Suaminya, si anggota DPR, adalah lelaki yang kalem dan tampan meski ada bekas-bekas cacar air di wajahnya.
Urusan selanjutnya adalah bagaimana menggerakkan cerita. Dengan pengakuan tidak tahan yang disampaikan berulang-ulang oleh perempuan itu, aku bisa membayangkan sebuah cerita penyiksaan, sebuah drama tentang perempuan yang ditindas dan setiap hari digampar oleh suaminya. Itu gagasan klise, tetapi sebuah gagasan yang klise pun, konon, akan menjadi cerita yang menarik jika diolah secara baik. Kata kuncinya adalah sensasi, yakni semacam kejutan yang meledakkan jantungmu sendiri. Kau tahu, orang-orang kadang membutuhkan sensasi dan drama tentang anggota DPR yang menyiksa penyanyi dangdut kupikir mempunyai kesempatan untuk meledakkan jantungmu berkali-kali.
Kucatat klise itu sebagai kemungkinan pertama. Masih ada empat ratus tiga kemungkinan lain yang rasanya bisa diolah dari pengakuan seorang penyanyi dangdut. Kau bisa membumbuinya menjadi cerita perjuangan kelas yang kekiri-kirian. Kau bisa juga menjadikannya sekadar cerita perselingkuhan biasa, tanpa niat muluk-muluk untuk membongkar kebobrokan sebuah kelas sosial. Ratusan kemungkinan lain bisa kautulis ringkas saja: dsb.
Dari hamparan pelbagai kemungkinan itu, anak-anakku sekalian, aku tetap memilih merangkul kalian. Seluruh upayaku untuk mengolah anggota DPR dan penyanyi dangdut ini semata-mata kutujukan demi menyelami isi kepala kalian. Dan aku akan melanjutkan sedikit lagi agar kalian bisa tidur pulas setelah ini.
Jadi beginilah dongeng ini berakhir...
Menghadapi serudukan si penyanyi dangdut, suaminya yang kalem tidak menangkis dengan mulutnya sendiri. Lelaki itu menitipkan mulut kepada seorang penasihat hukum yang cakap menangkis serangan dengan wibawa orang yang dibayar mahal, "Tulis besar-besar, ya, ini hanya salah pengertian," kata ahli hukum itu.
Tulis besar-besar, anak-anak, aku juga ingin menyewa pengacara itu jika kelak aku memperistri seorang penyanyi rap dan istriku suatu hari memberondongku, "Tak tahan! Tak tahan! Tak tahan!" Kau tentulah membutuhkan seseorang yang bisa tetap tenang dan mampu menyampaikan kalimat-kalimat sepele dengan penuh wibawa jika suatu hari kelak kau menghadapi serbuan gencar dari orang yang ingin membongkar ikatan perkawinannya denganmu.
Akhir kata, aku sudah menceritakan apa yang ingin kuceritakan --sebuah dongeng yang akrab dengan kalian hari ini. Tak usah kalian risau soal penyanyi dangdut dan politisi itu. Mereka akhirnya bercerai dan masing-masing hidup bahagia selamanya. Si perempuan muncul lagi di panggung-panggung dan meliuk dengan getar pinggul yang makin trengginas. Si lelaki melakukan operasi plastik untuk menambal bekas-bekas cacar yang mengganggu wajah dan penampilannya. Parasnya menjadi mulus dan ia tampak seperti pangeran yang baru lepas dari cengkeraman sihir. Kudengar ia baru saja melamar penyanyi dangdut lain untuk menghadapi pemilihan umum yang akan datang. Selamat tidur!***
Senin, 23 Juli 2007
Catatan:
*) Kalimat ini dicomot dari bait puisi Chairil Anwar: ... Aku sekarang orangnya bisa tahan/Sudah lama bukan kanak lagi/Tapi dulu memang ada suatu bahan/Yang bukan dasar perhitungan kini.
Jadi, inilah cerita untuk anak-anakmu....
"Saya sudah tidak tahan," kata perempuan itu.
Mereka bercakap di teras pada suatu sore dan perempuan itu sangat sadar bahwa dirinya cantik. Lelaki di depannya, seorang wartawan yang lekas terharu, sudah merekam seluruh ucapan perempuan itu sejak siang dan kelihatannya masih ingin melanjutkan wawancara hingga larut malam. Tetapi percakapan itu berakhir sebelum senja ketika perempuan itu lama sekali menerima telepon dari seseorang dan si wartawan pun, dalam satu jam terakhir, sesungguhnya sudah banyak mengada-ada.
Wawancara dengan perempuan tak tahan itu disiarkan keesokan harinya dan wartawan-wartawan lain memburu perempuan itu setelah gunjingan mengembang. Kepada para pemburu yang datang kemudian, perempuan itu membuat pengakuan yang sama, "Saya sudah tidak tahan." Di muka bumi ini, kau tahu, banyak perempuan lain yang juga tidak tahan, tetapi para wartawan tidak menguber orang yang biasa-biasa saja. Perempuan yang kuceritakan ini beruntung karena ia bukan orang yang biasa-biasa saja. Sejak umur tiga belas ia sudah menyanyi, semula di panggung-panggung dangdut pasar malam dan akhirnya di layar televisimu.
Agar kau tak menganggapnya congkak karena ia sadar bahwa dirinya cantik, ada baiknya kupertegas sekalian bahwa ia memang cantik. Bayangkan saja wujudnya sebagai perpaduan antara sosok mahasiswa teladan dan penari sirkus yang menakjubkan. Maksudku, jika ia diam ia akan tampak seperti mahasiswa teladan, jika ia bergoyang kau akan sepakat bahwa ia sesegar penari di sirkus-sirkus oriental; ia mampu meliukkan pinggulnya dengan getar yang meringkus nyali para istri setengah baya dan mengundang simpati para suami setengah buaya.
Kadang aku berpikir bahwa ia akan mudah merebut perhatian para juri sekiranya ia mau mengikuti kontes ratu-ratuan. Bahasa Inggrisnya mungkin agak remuk dan pengetahuan umumnya sedikit kacau dan ia akan menjawab setiap pertanyaan dengan cara berbelit-belit, tetapi itu semua adalah kelemahan yang mudah dimaafkan ketika seseorang memiliki lekuk tubuh yang mengundang simpati. Kupikir kau pun sanggup memaafkan kelemahan-kelemahan itu jika kau menjadi juri kontes ratu dan, lebih dari itu, ia sendiri sanggup menutupi kelemahan-kelemahan sepele itu dengan getar pinggulnya.
Namun ia hanya memilih bernyanyi dan tidak mengikuti kontes ratu dan ia tidak perlu khawatir terhadap apa pun yang menjadi pilihannya. Sebuah penelitian mutakhir, kau tahu, membuat kesimpulan serius bahwa perempuan cantik cenderung memiliki nasib yang lebih baik ketimbang perempuan buruk rupa. Dan, seperti menegaskan kesimpulan penelitian itu, perempuan dalam dongeng ini pun memiliki nasib baik. Seusai pemilihan umum, setelah beberapa orang yang mengurusi penyelenggaraan pemilihan itu digiring ke sel-sel penjara, perempuan itu mendapatkan jodoh di hari berikut --seorang anggota DPR yang baru memenangi jatah kursi jatuh hati kepadanya.
"Pinggulmu sangat indah," kata lelaki itu.
"Kau sedang berkampanye, kan?" balas perempuan itu.
"Aku sedang mengagumimu."
"Aku tak percaya padamu."
"Percayalah, kau pantas menjadi istriku."
Anak-anak sekalian, perempuan itu memang pantas dijadikan istri oleh siapa saja. Dan, sebaliknya, tak siapa saja pantas menjadikannya istri. Namun politisi yang memiliki kursi adalah orang yang juga bernasib baik dan selalu pantas melakukan apa saja. Tak sulit baginya untuk melamar penyanyi dangdut sebagai istri. Tak sulit pula bagi penyanyi dangdut untuk mendapatkan politisi. Kalian tahu, saat itu adalah masa kejayaan penyanyi dangdut di panggung politik.
"Mereka akan menjadi pasangan yang baik di kamar tidur dan saling melengkapi di panggung-panggung kampanye," kata Surapong Surakit, penulis Cirebon berdarah Thailand yang rajin mengikuti kasak-kusuk. Ini pandangan yang jernih dan memang seperti itulah adanya: sang politisi, dalam hal ini pihak lelaki, bertugas mengguyur kerumunan dengan janji-janji; dan sang istri, yang kedatangannya diumumkan pada bentangan spanduk-spanduk, menghibur kerumunan yang gelagapan oleh janji-janji.
Maka, didukung oleh suratan takdir dan pandangan yang jernih, kedua orang yang sama-sama bernasib baik itu pun menikah. Setengah tahun utuh tak ada berita tentang mereka dan pada bulan ketujuh perempuan itu mengumumkan perbuatan tak baik yang dilakukan oleh suaminya. Semoga dosanya diampuni! Seorang istri yang terpuji, anak-anakku sekalian, sama sekali tidak boleh menyebar-nyebarkan aib suami sendiri, namun perempuan itu justru menyampaikannya kepada wartawan. "Daripada terus-menerus membuat dosa, lebih baik kami bercerai saja. Saya sudah tidak tahan." Ia terdengar seperti pemimpin gerakan yang geram menuntut kebebasan.
Syukurlah bahwa perempuan itu tetap tahu batas. Ia tidak menyeruduk suaminya dengan semua rinci yang membuat ia mengibarkan bendera putih hanya dalam tempo enam bulan pernikahan. Lebih dari itu, kau harus mengakui bahwa perempuan ini cerdas. Ia tahu cara menggaet pembaca. Ia memberimu rasa penasaran dan membiarkan pikiranmu merayap ke segala arah. Kau bisa menduga bahwa perempuan itu mungkin merasa tertekan karena pinggulnya dikunci: si suami tidak rela istrinya menjadikan diri sendiri objek wisata. Kau bisa menduga bahwa si lelaki mungkin bising sekali; ia terus-menerus berkampanye bahkan ketika mereka berdua rebah di ranjang tidur.
"Sebetulnya saya ragu-ragu waktu memutuskan menikah dengannya," perempuan itu memberikan pengakuan lain tetapi tetap tanpa penjelasan yang memadai tentang apa yang membuatnya ragu-ragu. Sesungguhnya saya pun ragu-ragu menceritakan dongeng anak seperti ini. Sebuah dongeng tanpa peri dan putri, dan hanya menyodorkan tokoh utama anggota DPR dan penyanyi dangdut, apakah ia bisa menjadi dongeng yang menidurkan anak-anakmu?
Aku sempat putus asa beberapa saat menghadapi anggota DPR dan penyanyi dangdut ini dan aku merasa sedang melakukan ikhtiar yang imbisil untuk menjadikan mereka tokoh dongeng anak-anak. Pikiranku mulai goyah; mungkin mereka lebih tepat dijadikan tokoh utama cerita dewasa. Tetapi dugaan itu pun bisa keliru. Cerita-cerita dewasa yang bernilai sastra biasanya mengisahkan pelacur yang tertindas atau orang miskin yang dihina satpam orang kaya atau orang desa yang berfilsafat. Mungkin penyanyi dangdut tak terlalu mengkhawatirkan; ia masih enak dijadikan tokoh utama. Tapi anggota DPR? Ia bukan profesi yang sastrawi dan betul-betul tidak mengundang keharuan.
Dalam kegoyahan pikiranku, aku sudah hampir menyimpulkan bahwa ada problem kesastraan yang serius pada profesi anggota DPR: ia tidak enak dituliskan, apalagi dijadikan tokoh utama sebuah cerita.
Barangkali aku akan putus asa selamanya jika tidak menemukan pernyataan yang menenteramkan hati dari buku-buku teknik menulis. Kata buku-buku itu: "Apa saja bisa ditulis", "Gagasan untuk sebuah cerita bisa berasal dari mana pun." Alangkah mulia kalimat-kalimat itu. Pikiranku kembali teguh dan langsung kuputuskan bahwa anggota DPR pun bisa ditulis; dan perselisihan anggota DPR vs penyanyi dangdut layak dijadikan cerita. Lalu, dengan kepercayaan diri yang pulih, aku segera menetapkan ciri-ciri fisik keduanya. Mereka haruslah orang-orang yang cantik dan tampan, sebab dongeng untuk anak-anakmu sudah selayaknya ditokohi oleh orang-orang yang cantik dan tampan. Karena itu, dengan senang hati kunyatakan di muka bahwa penyanyi dangdut itu adalah perpaduan antara mahasiswa teladan dan penari sirkus oriental. Suaminya, si anggota DPR, adalah lelaki yang kalem dan tampan meski ada bekas-bekas cacar air di wajahnya.
Urusan selanjutnya adalah bagaimana menggerakkan cerita. Dengan pengakuan tidak tahan yang disampaikan berulang-ulang oleh perempuan itu, aku bisa membayangkan sebuah cerita penyiksaan, sebuah drama tentang perempuan yang ditindas dan setiap hari digampar oleh suaminya. Itu gagasan klise, tetapi sebuah gagasan yang klise pun, konon, akan menjadi cerita yang menarik jika diolah secara baik. Kata kuncinya adalah sensasi, yakni semacam kejutan yang meledakkan jantungmu sendiri. Kau tahu, orang-orang kadang membutuhkan sensasi dan drama tentang anggota DPR yang menyiksa penyanyi dangdut kupikir mempunyai kesempatan untuk meledakkan jantungmu berkali-kali.
Kucatat klise itu sebagai kemungkinan pertama. Masih ada empat ratus tiga kemungkinan lain yang rasanya bisa diolah dari pengakuan seorang penyanyi dangdut. Kau bisa membumbuinya menjadi cerita perjuangan kelas yang kekiri-kirian. Kau bisa juga menjadikannya sekadar cerita perselingkuhan biasa, tanpa niat muluk-muluk untuk membongkar kebobrokan sebuah kelas sosial. Ratusan kemungkinan lain bisa kautulis ringkas saja: dsb.
Dari hamparan pelbagai kemungkinan itu, anak-anakku sekalian, aku tetap memilih merangkul kalian. Seluruh upayaku untuk mengolah anggota DPR dan penyanyi dangdut ini semata-mata kutujukan demi menyelami isi kepala kalian. Dan aku akan melanjutkan sedikit lagi agar kalian bisa tidur pulas setelah ini.
Jadi beginilah dongeng ini berakhir...
Menghadapi serudukan si penyanyi dangdut, suaminya yang kalem tidak menangkis dengan mulutnya sendiri. Lelaki itu menitipkan mulut kepada seorang penasihat hukum yang cakap menangkis serangan dengan wibawa orang yang dibayar mahal, "Tulis besar-besar, ya, ini hanya salah pengertian," kata ahli hukum itu.
Tulis besar-besar, anak-anak, aku juga ingin menyewa pengacara itu jika kelak aku memperistri seorang penyanyi rap dan istriku suatu hari memberondongku, "Tak tahan! Tak tahan! Tak tahan!" Kau tentulah membutuhkan seseorang yang bisa tetap tenang dan mampu menyampaikan kalimat-kalimat sepele dengan penuh wibawa jika suatu hari kelak kau menghadapi serbuan gencar dari orang yang ingin membongkar ikatan perkawinannya denganmu.
Akhir kata, aku sudah menceritakan apa yang ingin kuceritakan --sebuah dongeng yang akrab dengan kalian hari ini. Tak usah kalian risau soal penyanyi dangdut dan politisi itu. Mereka akhirnya bercerai dan masing-masing hidup bahagia selamanya. Si perempuan muncul lagi di panggung-panggung dan meliuk dengan getar pinggul yang makin trengginas. Si lelaki melakukan operasi plastik untuk menambal bekas-bekas cacar yang mengganggu wajah dan penampilannya. Parasnya menjadi mulus dan ia tampak seperti pangeran yang baru lepas dari cengkeraman sihir. Kudengar ia baru saja melamar penyanyi dangdut lain untuk menghadapi pemilihan umum yang akan datang. Selamat tidur!***
Senin, 23 Juli 2007
Catatan:
*) Kalimat ini dicomot dari bait puisi Chairil Anwar: ... Aku sekarang orangnya bisa tahan/Sudah lama bukan kanak lagi/Tapi dulu memang ada suatu bahan/Yang bukan dasar perhitungan kini.