Posted by: cerpen in setan, Sastra, Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
Sekolah itu bagai rumah setan. Isinya pun laksana setan. Tetapi, sebagaiannya laksana malaikat. Siswa memekau. Guru linglung laksana hilang akal. Kebingungan berputar. Lalu, membentur tembok-tembok melangit. Terpelanting sekian depa. Semuanya kandas pada keyakinan. Setan-setan terbang seperti keyakinan sebagian isi sekolah itu. Setan-setan tertawa sebagaimana para pemujanya. Para laknatullah itu
Posted by: cerpen in Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
Fairuz mendengarkan obrolan ibu-ibu tetangga barunya. Dia paling muda di antara mereka. Sesekali ia tersenyum atau tertawa kecil menanggapi. Baginya itu bukan obrolan biasa. Dari mereka terpetik juga sebuah masukan yang baik. Sesuatu yang selama ini belum diketahuinya.
Tadinya ia hanya bermaksud mengantar kue ke rumah Ibu Desy. Ia baru saja selesai memasaknya. Ternyata di situ sudah ada Ibu Wina,
Posted by: cerpen in Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
Cemas karena anak-anak sekarang mulai apatis, tidak punya cita-cita, saya bertanya kepada cucu saya.
"Agus, nanti kalau sudah besar kau mau jadi apa?"
Cucu saya dengan tegas menjawab, "Mau jadi pemimpin."
Saya tertegun. Bangga karena penerus saya punya cita-cita besar. Perkara bisa kejadian atau hanya sekadar mengkhayal, tidak apa. Punya impian paling tidak membuat ada arah yang pasti di tengah
Posted by: cerpen in Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
Sabar adalah manusia got, begitu orang-orang menjulukinya. Sabar telah menyusuri semua sungai di kota ini,sungai yang mengalir dari hulu hingga sungai dan kalikali mati yang menyempit di balik gedung-gedung jangkung dan rumahrumah toko yang berjejal membuang segala kotoran.
Air dari sungai itu mengalir lambat pada tempat yang dangkal di selangkangan kakinya setiap hari, bau anyir dari lumpur
Posted by: cerpen in Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
ALI bangun tiba-tiba. Jam masih menunjuk ke angka 2. Saat semua orang baru masuk ke jantung lelap yang paling dalam. Satu dua kendaraan masih kedengaran mendengus jauh di jalanan. Tetapi Jakarta yang sibuk dan gelisah, nampaknya sudah berbaring melepas lelah. Mengambil napas untuk mendengus lagi dengan keriuhan dalam panas terik, debu dan hiruk-pikuk metropolitan.
“Bangun, bangun, bangun semua!”
Posted by: cerpen in Cinta, Cerpen, Cerita on
Jun 20, 2008
Kuharap anak-anakmu menyukai cerita ini. Aku sudah mengubah banyak sehingga ia tidak sama dengan apa yang kupikirkan semula. Kau tahu, dulu aku tegang sekali melihat anak-anakmu khusyuk mengunyah televisi. Aku menganggap benda itu sebagai keparat dan kau justru menyuruh anak-anakmu bersahabat dengannya. "Anak-anakmu akan ditenungnya menjadi cacingan." Aku ingin menampar mukamu; aku ingin